Belajar Blog | Belajar Twitter | Tips Ngeblog | Belajar Wordpress | Belajar SEO

Wednesday September 3, 2008 03:44

Pak, Bu, Om, Tante, Kami belum makan

Posted by Adm1n as Lingkungan


Share on Facebook    

Subscribe

Saya yakin, banyak yang sudah mendengar kata-kata ini. Ketika kita naik Kendaraan Umum, sudah menjadi pemandangan biasa bagi kita yang selalu melihat pengamen, pengemis, baik dengan nada halus maupun dengan nada kasar dalam hal meminta “imbalan” usaha mereka pada penumpang.

Kita juga tidak heran lagi, banyak  diantara mereka (atau bahkan sebagian besar!) merupakan anak-anak usia sekolah, pra sekolah sampai batita. Batita? Misalnya bayi-bayi yang imut dan turut merasakan mencari “sesuap” nasi. Anak-anak memainkan alat musik (ada yang bertepuk tangan) hanya untuk sekedar meminta uang “recehan” kepada penumpang.

Bahkan ada yang mengatasnamakan adik, saudara, orang tua, teman yang lagi sakit untuk memelas kasihan penumpang. Ibu yang menggendong anak-pun bukan hal yang aneh yang kita lihat untuk “mengais” rezejinya.

Saya sengaja memberikan tulisan tebal pada Ibu yang menggendong anak. Hal yang menjadi pertanyaan mendasar bagi saya, apakah anak tersebut benar-benar anak kandungnya? Atau hanya anak orang lain yang “dipinjam” atau “disewa” ? Disewa! Mungkin banyak diantara kita yang pernah mendengar perdagangan anak-anak batita (bawah 3 tahun). Dan banyak diantara kita (mungkin) pernah mendengar anak anak kecil yang disewakan orang-orang yang tidak bertanggungjawab hanya untuk meminta belas kasihan orang lain. Dan akhirnya, anak ini dijadikan mesin uang mereka.

Hukum di negara kita yang mengatur tentang perdagangan anak dan hak-hak anak lainnya sudah ada. Bahkan ada LSM yang sengaja didirikan hanya untuk memperjuangkan hak-hak ini. Termasuk dalam bidang ini adalah Komnas Anak. Kita sering mendengar Komnas Anak dalam aksinya yang berjuang memberikan keadilan bagi anak-anak selebritis atau anak-anak “the have” lainnya. Tapi bukan berarti mereka mengesampingkan anak-anak terlantar. Hanya saja, aksi mereka untuk anak terlantar jarang dipublikasikan besar-besaran seperti halnya anak-anak selebritis yang mereka bantua dan selalu disiarkan di pelbagai acara infotainment.

Apa daya kita, jika kita mendapati orang-orang yang memperlakukan anak-anaknya sebagai mesin uang dijalanan, dan orang dewasa tersebut bilang bahwa ini memang “anak kandungnya” dan terpaksa melakukannya untuk mencari biaya hidup ditengah krisis seperti ini?

Kalau terus begini, masalahnya tidak akan pernah terselesaikan. Apa pendapat Anda?

===============================================================
Join My Networks:
1. Facebook
2. Twitter
3. Plurk

Visit My Twitter Button Site and my URL Shortener
================================================================

Related Articles:

Post Footer automatically generated by Add Post Footer Plugin for wordpress.

Tags: , , , , ,


Share on Facebook    






2 Responses to Pak, Bu, Om, Tante, Kami belum makan

SeputarHP

September 4th, 2008 at 4:40 am

Kok masih banyak di jalanan, ya..?

SeputarHPs last blog post..Akhirnya Datang Juga

syifanux

September 9th, 2008 at 8:53 am

memang naif juga, mereka para orang tua yang baik dengan sengaja menyewa/menyewakan anak ataupun memang anak sendiri sepertinya emoh peduli dengan mental dan masa depan anak-anaknya, tapi yaaaaa mau gimana lagi.
terlepas itu semua
alangkah indahnya kita tetep menyisihkan sebagian rejeki pada mereka, itu adalah hak mereka yang mesti kita tunaikan… jangan lupa juga berikan senyum tulus kita, itu adalah sumber harga diri bagi mereka, jangan sampe kita ngasih duit tapi sambil membuang muka, ya apa bedanya kita dengan mereka he he he :-)

Tul, Mas.. Bukankah kita disuruh untuk mendermakan 2.5% penghasilan kita untuk kaum dhuafa? Tambah setuju lagi kalau kita memberikan dengan ikhlas, dengan senyuman dan penuh kasih. Tidak dengan membuang muka :)

Comment Form

About Me

Irfan / Reifand Alvaro Hai.. Selamat datang di Blog Sekitarkita.info. Nama saya Irfan, biasa dikenal di dunia maya sebagai Reifand Alvaro. Berdomisili di Bekasi. Simak detail tentang saya di sini atau juga pada link ini.

By Twitterbuttons

Please leave any comments to support my articles

Amprokan

Categories

Archives


Recomended Hosting Company Recomended For Twitter Badges Free Domain with DNS Setting Jadikan URL-mu menjadi Singkat